By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
INTISARIMAJALAH.COMINTISARIMAJALAH.COMINTISARIMAJALAH.COM
  • Home
    • Home 2
    • Home 3Hot
    • Home 4
    • Home 5New
  • Economy
    Economy
    Show More
    Top News
    Latest News
  • World
    WorldShow More
  • Us Today
    Us TodayShow More
  • Pages
    • 404 Page
    • Search Page
  • Join Us
Reading: ETIKET: Adab Berkata-kata Ada Atasan, Ada Bawahan
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
INTISARIMAJALAH.COMINTISARIMAJALAH.COM
  • Us Today
  • World
  • Economy
  • Business
  • Industry
  • Politics
  • Home
    • Home 1
    • Home 2
    • Home 3
    • Home 4
    • Home 5
  • Categories
    • Us Today
    • World
    • Economy
    • Industry
    • Business
    • Politics
  • Bookmarks
  • More Foxiz
    • Sitemap
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Advertise
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
INTISARIMAJALAH.COM > Blog > Budaya > ETIKET: Adab Berkata-kata Ada Atasan, Ada Bawahan
Budaya

ETIKET: Adab Berkata-kata Ada Atasan, Ada Bawahan

Redaksi
Last updated: 10/07/2026 01:03
By Redaksi
4 Min Read
Share
Bullying
SHARE

intisarimajalah.com/ — Beruntunglah kita hidup di sebuah alam bahasa yang begitu menekankan kesamaan rasa. Sehingga kita tidak perlu repot-repot memikirkan tingkatan kesopanan berbahasa seperti dalam masyarakat Jawa, Prancis, atau Jerman.

Jadi bila ada yang bertanya, bagaimana cara paling sopan menyapa atasan, mudah pula menjawabnya. Sebutan “Bapak” kepada atasan, atau “Anda” kepada rekan bisnis, sudah cukup mencerminkan sopan santun.

Kadang-kadang ada kantor tertentu yang punya bos nyentrik dan tidak mempedulikan keformalan dalam menyebut jati diri.

“Sudah, cukup kamu panggil saya ‘Mas’, ‘Abang’, atau nama,” tutur seorang sepupu yang bekerja di sebuah kantor penelitian di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.

Toh, tidak semua karyawan dikantor itu tega memenuhi permintaan tersebut.

“Ada kerikuhan menyebut nama atasan kita. Jadinya, seolah-olah dia teman main, bukan bos.” Ujar Beni, salah satu staf senior di pusat penelitian tersebut.

“Jadi, kita lebih sering menyebut beliau ‘Pak’. Kadang-kadang, kalau diluar kantor, kita menyebutnya ‘Mas’, tapi tidak pernah langsung dengan nama,” tutur Beni.

Dari segi sopan santun, ini ada benarnya.

Para ahli etiket menyarankan, kendati hubungan atasan bawahan di sebuah kantor cukup luwes, hendaknya sopan santun tetap diterapkan.

Jangan seenaknya ber-lu-gue dengan sang bos, kendati ia lebih muda atau seusia dengan Anda, terutama didepan orang lain atau tamu. Ini bukan hanya menyangkut pribadi si bos, tapi juga citra seluruh kantor.

Dalam hubungan yang setara, misalnya antara sesama manajer, biasanya cukup saling memanggil dengan nama kecil – dengan catatan: hubungan mereka terbilang akrab.

“Eh, Jim, apa kabar? Lama lu enggak kelihatan. Kok, jarang datang ke rapat manajer?” sapa Lukman kepada sahabatnya, Jimmy. Keduanya adalah manajer dalam korporasi yang sama tapi berlainan divisi.

Soalnya lain lagi bila jabatannya setara tapi hubungan pribadinya tidak begitu akrab.

Dalam hal ini, sopan santun sapaan cenderung bersifat formal, seperti, “Apa kabar, Ibu Rini?” atau, “Lama saya tidak bertemu dengan Anda, Pak Purwanto. Bagaimana bisnis anda?”

Memang, hubungan antara bos dan anak buah sebaiknya tidak selalu dipertalikan oleh adab yang kaku.

Sebab, bila itu yang terjadi, si karyawan akan kurang leluasa dalam bekerja ataupun mengemukakan pikirannya.

Sebaliknya, bila si bos terlalu longgar, terlalu menekankan tiadanya hierarki dalam sebuah hubungan kerja, bisa tumbuh sikap tak bertanggung jawab dan sewenang-wenang dari anak buahnya.

Anto, misalnya. Karena Pak Rahman, bosnya, selalu memberikan kebebasan bekerja, staf pemasaran – yang kebetulan punya sifat mau menang sendiri – ini sering tidak sopan dalam mengusulkan pikiran-pikirannya.

Ia kerap tidak ingat bahwa Pak Rahman adalah pemimpin dalam rapat perusahaan. Kadang-kadang usulnya disertai teriakan: “Kalau Anda tidak menerima usul ini, mau usul yang bagaimana lagi?”

Peraturan sopan santun atasan bawahan sebetulnya sulit didefinisikan secara pasti. Tidak ada pedoman bakunya.

Banyak hal yang mesti diterapkan sesuai dengan kondisi kantor yang bersangkutan. Cuma, ada satu hal yang bisa menjadi pegangan umum: jangan terlalu memberikan kebebasan, seperti halnya jangan terlalu membatasi keleluasaan.

Dalam hal ini, Anda harus pandai-pandai menggunakan rasa, common sense. Ulur dimana perlu dan tarik kembali pada saat yang tepat.

Unsur saling  mengenal adalah faktor lain yang sangat membantu selarasnya sopan santun di sebuah kantor.

Dengan mengenal setiap pribadi yang ada di dalam kawasan kerja, kita tahu dengan pasti sedang berhadapan dengan siapa.

Jangan sampai terulang kejadian berikut ini di sebuah kantor periklanan yang amat terkenal di Jakarta Selatan.

Suatu pagi, resepsionis kantor tersebut berteriak menahan seorang pria yang nyelonong begitu saja tanpa melapor lebih dulu ke sang resepsionis.

Ternyata, si pria – yang jarang muncul dikantor – berjalan terus. Apa boleh buat, ia adalah sang presiden direktur.

You Might Also Like

PRAFI SP3 Manokwari: Kota Kecil yang Teduh di Tanah Papua Barat
Bahlil dan Teddy: Dua Pria yang Sedang Trending dalam Satu Bingkai Kekuasaan
Hidup Ini Adalah Kesempatan
Circle of Life: Kehidupan Berputar antara Bahagia dan Sulit
Cerita Prabowo 34 Tahun Mengabdikan Diri Kembangkan Pencak Silat
TAGGED:#AdaAtasanBawahan#AdabBerkatakata#ETIKET
Share This Article
Facebook Email Print
Previous Article Dari Brankas Dua Meter Cafe de’Clan: Jejak ASABRI, Batu Bara, Krakatau Steel, hingga Bayang-Bayang Konflik Aparat
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Stay Connected

FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow
- Advertisement -
Ad image

Latest News

Dari Brankas Dua Meter Cafe de’Clan: Jejak ASABRI, Batu Bara, Krakatau Steel, hingga Bayang-Bayang Konflik Aparat
Hukum
HP Hilang atau Dicuri? Jangan Panik, Begini Cara Mengamankan WhatsApp Agar Tidak Disalahgunakan
Ekonomi
Yusril Ihza Mahendra: Ketika Politik Bertemu Filsafat
Tokoh
Jeruk Kasturi dan Madu: Kesaksian Seorang Dokter Penyakit Dalam yang Tak Pernah Dilupakannya
Gaya Hidup Kawula Muda Trend viral
//

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet

Sign Up for Our Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

[mc4wp_form id=”55″]

© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Join Us!
Subscribe to our newsletter and never miss our latest news, podcasts etc..
[mc4wp_form]
Zero spam, Unsubscribe at any time.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?