By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
INTISARIMAJALAH.COMINTISARIMAJALAH.COMINTISARIMAJALAH.COM
  • Home
    • Home 2
    • Home 3Hot
    • Home 4
    • Home 5New
  • Economy
    Economy
    Show More
    Top News
    Latest News
  • World
    WorldShow More
  • Us Today
    Us TodayShow More
  • Pages
    • 404 Page
    • Search Page
  • Join Us
Reading: Cerita Prabowo 34 Tahun Mengabdikan Diri Kembangkan Pencak Silat
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
INTISARIMAJALAH.COMINTISARIMAJALAH.COM
  • Us Today
  • World
  • Economy
  • Business
  • Industry
  • Politics
  • Home
    • Home 1
    • Home 2
    • Home 3
    • Home 4
    • Home 5
  • Categories
    • Us Today
    • World
    • Economy
    • Industry
    • Business
    • Politics
  • Bookmarks
  • More Foxiz
    • Sitemap
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Advertise
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
INTISARIMAJALAH.COM > Blog > Budaya > Cerita Prabowo 34 Tahun Mengabdikan Diri Kembangkan Pencak Silat
BudayaGaya HidupKawula Muda

Cerita Prabowo 34 Tahun Mengabdikan Diri Kembangkan Pencak Silat

Redaksi
Last updated: 11/04/2026 23:03
By Redaksi
4 Min Read
Share
SHARE

intisarimajalah.com/ — Tiga Dekade Lebih, Presiden Prabowo mengabdikan diri untuk pencak silat. Sebuah pengabdian dijalani tanpa henti untuk menjaga, membina, dan membawa pencak silat ke panggung dunia.

Kini, Prabowo Subianto menutup satu bab panjang, setelah 34 tahun di pencak silat beliau menyampaikan pamit dari jabatan Ketua Umum PB IPSI.

Di panggung Musyawarah Nasional ke-16 Ikatan Pencak Silat Indonesia di Jakarta Convention Center, Sabtu, 11 April, ia tidak sekadar berpidato—ia seperti merangkum hidupnya sendiri.

Nada suaranya tenang, tapi berlapis. Ada kebanggaan, ada kelelahan yang disembunyikan, dan ada keikhlasan yang terasa dipaksakan oleh keadaan.

“Kalau dihitung hari ini,” katanya, “saya sudah mengabdi di pencak silat selama 34 tahun.” Sebuah angka yang tak hanya panjang, tapi juga sarat jejak kekuasaan dan loyalitas.

Selama itu, Prabowo bukan figur pinggiran. Ia berada di inti: empat periode sebagai Wakil Ketua Umum dan lima periode sebagai Ketua Umum Ikatan Pencak Silat Indonesia.

Sebuah dominasi yang jarang terjadi dalam organisasi olahraga tradisional—dan mungkin hanya mungkin bagi mereka yang memiliki kombinasi pengaruh, jaringan, dan karisma personal.

Namun kini, panggung itu ia tinggalkan.

Keputusan untuk tidak melanjutkan jabatan sebagai Ketua Umum PB IPSI bukan semata pilihan organisasi, melainkan konsekuensi politik.

Sebagai Presiden, ia mengaku tak lagi bisa hadir sepenuhnya. “Tidak mungkin saya efektif,” ujarnya. Kalimat yang terdengar administratif, tapi sesungguhnya politis: pengakuan bahwa kekuasaan selalu menuntut prioritas.

Tiga tahun terakhir, ia mengaku sudah menjauh dari garis depan. Ia memilih peran yang lebih sunyi—mendukung dari belakang.

Dalam bahasa organisasi, itu bisa berarti transisi. Dalam bahasa kekuasaan, itu bisa berarti kontrol yang lebih halus.

Prabowo tampak sadar betul bahwa kepemimpinan di IPSI bukan miliknya seorang. Ia menyebut nama Eddy Nalapraya—pendahulunya—seolah ingin mengembalikan sejarah ke titik semula.

“Saya hanya pengganti,” katanya. Pernyataan yang sederhana, tapi menyimpan pesan: kekuasaan adalah estafet, bukan warisan pribadi.

Di balik semua itu, ada cerita yang lebih personal.

Pencak silat bagi Prabowo bukan sekadar organisasi. Ia adalah warisan keluarga. Kakeknya disebut sebagai bagian dari perguruan Setia Hati di Madiun, jauh sebelum republik berdiri.

Ayahnya pun lama terlibat dalam pembinaan IPSI. Dari sana, pencak silat menjelma bukan hanya olahraga, tapi identitas—bahkan ideologi kecil tentang kebangsaan.

“Maka bagi saya, pencak silat adalah panggilan,” ujarnya.

Kalimat itu menjelaskan banyak hal: mengapa ia bertahan puluhan tahun, mengapa ia tetap bicara dengan emosi, dan mengapa ia belum sepenuhnya bisa melepaskan.

Sebab bahkan setelah mundur, ia menolak benar-benar pergi. “Pendekar sampai napas terakhir tetap pendekar,” katanya. Sebuah metafora yang mengaburkan batas antara jabatan dan jati diri.

Namun tidak semua cerita berakhir manis.

Ia mengakui satu kegagalan yang selama ini menjadi ambisi besar: membawa pencak silat ke Olimpiade. Target yang berulang kali digaungkan, tapi belum juga tercapai. Dalam pengakuannya terselip nada penyesalan—meski dibungkus optimisme. Ia percaya generasi berikutnya akan berhasil.

Barangkali ini bagian paling jujur dari pidatonya: bahwa bahkan dalam kekuasaan panjang, ada batas yang tak bisa ditembus.

Prabowo menutup dengan satu pesan yang terasa lebih filosofis daripada organisatoris. Ia mengingatkan agar pencak silat tidak kehilangan “kemurnian”-nya.

Sebuah kata yang bisa ditafsirkan luas: tentang teknik, nilai, atau bahkan identitas budaya di tengah arus globalisasi.

Di titik ini, pidato itu tidak lagi tentang IPSI, atau bahkan tentang dirinya.

Ia menjadi refleksi tentang warisan—apa yang ditinggalkan, apa yang gagal dicapai, dan apa yang masih harus dijaga.

Dan seperti banyak kisah panjang lainnya, Prabowo tidak benar-benar mengakhiri perjalanannya. Ia hanya bergeser posisi: dari pusat gelanggang ke pinggir arena, dari aktor utama menjadi penjaga bayangan.

Di sana, mungkin, seorang pendekar memang tidak pernah pensiun.

You Might Also Like

Komisaris PT Sunra Ismeth Wibowo Ucapkan Dirgahayu IMI, Terus Berkontribusi Bagi Kemajuan Industri Otomotif Nasional
PRAFI SP3 Manokwari: Kota Kecil yang Teduh di Tanah Papua Barat
Bahlil dan Teddy: Dua Pria yang Sedang Trending dalam Satu Bingkai Kekuasaan
Eksekutif Mudah Lupa – Apa Obatnya?
Perhumas PR Meet and Brew di Other Half Cafe, Jumat 24 April 2026
TAGGED:#BadanKomunikasiPemerintahCerita Prabowo 34 Tahun Mengabdikan Diri Kembangkan Pencak Silat
Share This Article
Facebook Email Print
Previous Article Tanpa Voting, Purnomo Yusgiantoro Pimpin IKAL Lemhannas
Next Article Negara Amankan Rp11,42 T dari Penertiban Perkebunan dan Tambang Ilegal, Prabowo: Kerja yang Tak Mudah

Stay Connected

FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow
- Advertisement -
Ad image

Latest News

Bullying
ETIKET: Adab Berkata-kata Ada Atasan, Ada Bawahan
Budaya
Dari Brankas Dua Meter Cafe de’Clan: Jejak ASABRI, Batu Bara, Krakatau Steel, hingga Bayang-Bayang Konflik Aparat
Hukum
HP Hilang atau Dicuri? Jangan Panik, Begini Cara Mengamankan WhatsApp Agar Tidak Disalahgunakan
Ekonomi
Yusril Ihza Mahendra: Ketika Politik Bertemu Filsafat
Tokoh
//

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet

Sign Up for Our Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

[mc4wp_form id=”55″]

© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Join Us!
Subscribe to our newsletter and never miss our latest news, podcasts etc..
[mc4wp_form]
Zero spam, Unsubscribe at any time.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?