By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
INTISARIMAJALAH.COMINTISARIMAJALAH.COMINTISARIMAJALAH.COM
  • Home
    • Home 2
    • Home 3Hot
    • Home 4
    • Home 5New
  • Economy
    Economy
    Show More
    Top News
    Latest News
  • World
    WorldShow More
  • Us Today
    Us TodayShow More
  • Pages
    • 404 Page
    • Search Page
  • Join Us
Reading: Orang Bijak Tidak Tergesa, Tapi Tidak Berhenti Melangkah, oleh: Jojo Media Coach
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
INTISARIMAJALAH.COMINTISARIMAJALAH.COM
  • Us Today
  • World
  • Economy
  • Business
  • Industry
  • Politics
  • Home
    • Home 1
    • Home 2
    • Home 3
    • Home 4
    • Home 5
  • Categories
    • Us Today
    • World
    • Economy
    • Industry
    • Business
    • Politics
  • Bookmarks
  • More Foxiz
    • Sitemap
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Advertise
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
INTISARIMAJALAH.COM > Blog > Kawula Muda > Orang Bijak Tidak Tergesa, Tapi Tidak Berhenti Melangkah, oleh: Jojo Media Coach
Kawula MudaKolom

Orang Bijak Tidak Tergesa, Tapi Tidak Berhenti Melangkah, oleh: Jojo Media Coach

Redaksi
Last updated: 25/06/2026 05:59
By Redaksi
4 Min Read
Share
SHARE

intisarimajalah.com/ — Orang Bijak Tidak Tergesa, Tapi Tidak Berhenti Melangkah

Saya teringat seorang tua di kampung. Jalannya pelan. Sangat pelan. Kalau naik sepeda motor, mungkin ia akan disalip semua orang. Kalau ikut lomba lari, pasti kalah sebelum mulai.

Tapi anehnya, hidupnya tidak pernah berantakan.

Sawahnya tetap panen. Anak-anaknya sekolah. Tetangganya hormat. Dan ketika ia bicara, orang memilih diam mendengarkan.

Dulu saya heran. Di zaman orang berlomba cepat seperti sekarang, mengapa orang yang lambat justru tampak lebih tenang?

Kini saya mulai paham. Karena hidup ternyata bukan soal siapa yang paling cepat sampai. Tetapi siapa yang paling lama mampu berjalan tanpa kehilangan dirinya sendiri.

Hari ini orang mudah sekali tergesa. Semua ingin instan. Karier instan. Kaya instan. Terkenal instan. Bahkan bijak pun ingin instan.

Media sosial mempercepat semuanya. Orang baru belajar sehari sudah merasa ahli. Baru berhasil sedikit sudah sibuk memamerkan.

Padahal pohon besar tidak tumbuh dalam semalam. Justru yang tumbuh terlalu cepat sering tidak kuat diterpa angin.

Saya sering melihat orang hebat jatuh bukan karena kurang pintar. Tetapi karena terlalu terburu-buru.

Ingin cepat naik. Cepat dikenal. Cepat punya kuasa. Akhirnya jalan pintas dipilih. Sedikit manipulasi dianggap wajar. Geser sana-sini, sedikit kebohongan dianggap strategi.

Pelan-pelan. Dari dalam. Di situlah integritas diuji.

Integritas itu bukan pidato.  Bukan slogan seminar. Bukan kalimat motivasi yang ditempel di dinding kantor. Integritas adalah apa yang kita lakukan saat tidak ada yang melihat. Sesederhana mengembalikan uang lebih.

Sesederhana mengaku salah. Sesederhana tidak mengambil yang bukan haknya meski ada kesempatan.  Kelihatannya kecil. Tetapi justru hidup dibangun dari yang kecil-kecil itu.

Saya pernah bertemu banyak orang penting. Sebagian sangat cerdas. Sebagian sangat kaya. Sebagian sangat berkuasa. Tetapi, yang paling sulit ditemukan adalah orang yang tetap lurus ketika punya kesempatan untuk bengkok.

Karena ternyata, menjadi pintar lebih mudah daripada menjaga hati tetap bersih.

Orang yang berintegritas biasanya tidak banyak bicara tentang dirinya sendiri. Ia bekerja saja. Diam-diam. Tidak sibuk membangun pencitraan.

Ia tahu: citra bisa dibuat dalam sehari. Tetapi kepercayaan dibangun bertahun-tahun. Dan kepercayaan hanya lahir dari konsistensi. Bukan sekali jujur. Tetapi berkali-kali memilih jujur saat kebohongan terasa lebih menguntungkan.

Ada harga yang harus dibayar untuk itu. Kadang dianggap tidak fleksibel. Kadang ditinggalkan.

Kadang kalah cepat dibanding mereka yang berlari lewat tikungan-tikungan curang. Tetapi orang bijak tahu satu hal: Lebih baik terlambat sampai daripada cepat tiba dengan kehilangan diri sendiri.

Karena kemenangan yang mengorbankan nurani biasanya tidak bertahan lama.

Saya percaya, hidup punya cara sendiri untuk menghitung. Yang curang mungkin terlihat menang hari ini. Yang licik mungkin tampak bersinar sekarang.

Tetapi waktu adalah hakim yang paling jujur. Ia menyaring semuanya. Mana yang asli. Mana yang palsu. Mana yang dibangun dengan ketekunan. Mana yang sekadar pencitraan. Maka orang bijak tidak tergesa.

Ia berpikir. Menimbang. Mendengar suara hatinya.

Tetapi ia juga tidak berhenti melangkah. Sebab terlalu lama diam juga berbahaya. Keraguan bisa membuat hidup mandek.

Banyak orang gagal bukan karena tidak mampu, tetapi karena terlalu takut memulai. Akhirnya hidup habis hanya untuk menghitung kemungkinan.

Padahal jalan baru akan terlihat setelah kaki melangkah. Pelan tidak masalah. Asal bergerak.

Sedikit tidak masalah. Asal konsisten.

Karena kehidupan yang kokoh biasanya dibangun bukan oleh lompatan besar, melainkan oleh langkah-langkah kecil yang tidak berhenti. Dan mungkin memang itu rahasianya.

Orang bijak tidak sibuk mengejar tepuk tangan. Ia hanya memastikan setiap langkahnya masih sejalan dengan hati nuraninya.

Meski pelan. Meski sepi. Meski kadang harus berjalan sendirian.

 

 

You Might Also Like

Kekuatan Syukur yang Mengubah Hidup
Kepala BAKOM RI Qodari: Amien Rais Terjebak Hoaks, Alarm Bahaya di Era AI
Sebelum Jadi Presiden RI Mereka Jadi Cover Majalah EKSEKUTIF
AkalSuluh Jadi Media Peter F. Gontha Di Tengah Riuh Podcast Digital
Prabowo bertemu Dalio, Kode Untuk Soros
TAGGED:Orang Bijak Tidak TergesaTapi Tidak Berhenti Melangkah
Share This Article
Facebook Email Print
Previous Article May Bank Klarifikasi Hanya Saksi Penyelidikan Dugaan Manipulasi Ekspor Minyak Sawit Mentah
Next Article VIRAL! Caddy Golf Diduga Dianiaya di Modern Golf Tangerang, Leher Korban Diduga Diinjak Player, Benarkah Pelakunya Pejabat?

Stay Connected

FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow
- Advertisement -
Ad image

Latest News

Bullying
ETIKET: Adab Berkata-kata Ada Atasan, Ada Bawahan
Budaya
Dari Brankas Dua Meter Cafe de’Clan: Jejak ASABRI, Batu Bara, Krakatau Steel, hingga Bayang-Bayang Konflik Aparat
Hukum
HP Hilang atau Dicuri? Jangan Panik, Begini Cara Mengamankan WhatsApp Agar Tidak Disalahgunakan
Ekonomi
Yusril Ihza Mahendra: Ketika Politik Bertemu Filsafat
Tokoh
//

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet

Sign Up for Our Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

[mc4wp_form id=”55″]

© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Join Us!
Subscribe to our newsletter and never miss our latest news, podcasts etc..
[mc4wp_form]
Zero spam, Unsubscribe at any time.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?