By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
INTISARIMAJALAH.COMINTISARIMAJALAH.COMINTISARIMAJALAH.COM
  • Home
    • Home 2
    • Home 3Hot
    • Home 4
    • Home 5New
  • Economy
    Economy
    Show More
    Top News
    Latest News
  • World
    WorldShow More
  • Us Today
    Us TodayShow More
  • Pages
    • 404 Page
    • Search Page
  • Join Us
Reading: Jurnalis M. Idris Daulat Luncurkan “Labirin 9.900 Versi Diri”, Bedah Pola Luka Digital Generasi Urban lewat Pendekatan Investigatif
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
INTISARIMAJALAH.COMINTISARIMAJALAH.COM
  • Us Today
  • World
  • Economy
  • Business
  • Industry
  • Politics
  • Home
    • Home 1
    • Home 2
    • Home 3
    • Home 4
    • Home 5
  • Categories
    • Us Today
    • World
    • Economy
    • Industry
    • Business
    • Politics
  • Bookmarks
  • More Foxiz
    • Sitemap
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Advertise
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
INTISARIMAJALAH.COM > Blog > Kolom > Jurnalis M. Idris Daulat Luncurkan “Labirin 9.900 Versi Diri”, Bedah Pola Luka Digital Generasi Urban lewat Pendekatan Investigatif
Kolom

Jurnalis M. Idris Daulat Luncurkan “Labirin 9.900 Versi Diri”, Bedah Pola Luka Digital Generasi Urban lewat Pendekatan Investigatif

Redaksi
Last updated: 02/07/2026 23:19
By Redaksi
4 Min Read
Share
Labirin 9.900 Versi Diri
SHARE

intisarimajalah.com/ – M. Idris Daulat, jurnalis investigatif yang dikenal luas lewat rekam jejaknya di Majalah MATRA, resmi meluncurkan buku terbarunya berjudul Labirin 9.900 Versi Diri: Buku Induk Eksistensial dan Sistem Operasi Kesadaran Abad Siber.

Contents
Diracik dari Ratusan Jam Pengamatan Lapangan, Bukan Kajian KlinisMenyasar Bahasa Psikologi Populer yang Kerap DisalahgunakanMemadukan Jurnalisme, Neurosains, dan Kerangka KetauhidanLatar Belakang PenulisAkses dan Format Buku

Buku ini telah tersedia dalam format digital di google play book.

Berbeda dari buku pengembangan diri kebanyakan, karya ini disusun dengan pendekatan jurnalisme investigasi untuk membedah pola manipulasi relasional dan kecanduan validasi digital yang marak terjadi di kalangan generasi urban Indonesia, mulai dari ruang obrolan WhatsApp, gerbong KRL, hingga meja-meja kedai kopi di kota besar.

Diracik dari Ratusan Jam Pengamatan Lapangan, Bukan Kajian Klinis

Idris menegaskan buku ini tidak lahir dari ruang praktik psikolog atau mimbar ceramah, melainkan dari pengamatan langsung sebagai jurnalis yang menghabiskan waktu di lapangan.

Angka 9.900 pada judul buku merujuk pada struktur isinya: dari 99 seri Human Pattern Index yang masing-masing dipecah menjadi ratusan arsip investigasi mandiri.

Seluruh arsip tersebut disusun menggunakan metode yang ia sebut Matriks UNIFILE, kerangka analisis empat lapis yang membedah jejak siber, sirkuit neurosains di balik pengambilan keputusan emosional, tameng budaya masyarakat Nusantara, hingga arsitektur spiritual di balik satu pola luka yang sama.

“Krisis emosional yang kita alami hari ini sejatinya bukan sekadar kegagalan komunikasi digital. Ini adalah krisis yang jauh lebih sunyi,” tulis Idris dalam catatan pengantar bukunya, merujuk pada fenomena kecemasan yang muncul hanya karena status pesan yang tak kunjung dibalas.

Menyasar Bahasa Psikologi Populer yang Kerap Disalahgunakan

Dalam buku ini, Idris turut menyoroti fenomena penyalahgunaan istilah psikologi populer seperti gaslighting, trauma bonding, dan silent treatment di media sosial, yang menurutnya kerap dijadikan alat untuk melabeli dan menyerang orang lain, alih-alih untuk refleksi diri.

Ia mengajak pembaca menggunakan kerangka dalam buku ini sebagai cermin audit terhadap ego sendiri, bukan sebagai senjata sosial.

Penulis juga menyisipkan batasan etis yang tegas: seluruh analisis relasional di dalam buku dinyatakan tidak berlaku bagi pembaca yang tengah menghadapi kekerasan fisik, ancaman keselamatan, atau penyekapan.

Untuk kondisi tersebut, buku ini secara eksplisit mengarahkan pembaca kepada layanan bantuan resmi, termasuk Layanan Darurat Kesehatan Mental Kemenkes di nomor 119 ekstensi 8, Komnas Perempuan, dan Yayasan Pulih.

Memadukan Jurnalisme, Neurosains, dan Kerangka Ketauhidan

Salah satu keunikan buku ini terletak pada penggabungan tiga pendekatan yang jarang berjalan beriringan: metodologi jurnalisme naratif ala Gay Talese dan Hunter S. Thompson, kajian psikologi kognitif seputar bias berpikir cepat dan lambat, serta kerangka spiritual yang merujuk pada Asmaul Husna dan pemikiran tokoh-tokoh seperti Al-Ghazali, Ibn Arabi, dan Jalaluddin Rumi.

Bagi Idris, akar dari banyak persoalan relasional generasi digital adalah bentuk penghambaan baru, ketika manusia modern menggantungkan rasa aman dan harga dirinya pada gawai serta validasi sesama manusia, bukan pada sesuatu yang lebih hakiki.

Latar Belakang Penulis

Selain dikenal sebagai Human Observer dan jurnalis investigatif, Idris merupakan pendiri Al Musallina Foundation dan aktif dalam sejumlah organisasi kemasyarakatan, termasuk kepengurusan organisasi alumni nasional.

Latar belakang ini turut mewarnai sisi humanis dalam penulisan buku, yang menegaskan bahwa di balik dinginnya interaksi digital, kebutuhan manusia untuk diakui dan dicintai tidak pernah berubah.

Akses dan Format Buku

Labirin 9.900 Versi Diri diterbitkan di bawah imprint Confidential Social Archive System, dalam format EPUB dan PDF, serta didistribusikan secara digital melalui Google Play Books. Buku dapat diunduh melalui tautan berikut:

Tautan unduh resmi: https://play.google.com/store/books/details?id=RVHvEQAAQBAJ

Informasi lebih lanjut mengenai buku dan penulis dapat diperoleh melalui surel idaulat@gmail.com. (intisarimajalah.com/)

Klik juga: Jurnalis M. Idris Daulat Luncurkan Labirin 9.900 Versi Diri, Bedah Pola Luka Digital Generasi Urban lewat Pendekatan Investigatif – Harian Kami

You Might Also Like

Mengkriminalkan dan Mempidanakan Penyalahguna Adalah Kebijakan Hukum Yang Keliru
SS Budi Raharjo MM: Kiat Menjadi Orang Kreatif
Lanjutan dari Komisi Percepatan Reformasi Polri, Oleh: Laksamana Sukardi
 Memahami dan Menghadapi Cyberbullying serta Cyberstalking di Era Digital, Oleh: Ardi Sutedja K
Satu Taksi, Dua Kereta, dan Satu Pertanyaan Besar: Kenapa Bisa Jadi Tragedi?
TAGGED:buku digital Indonesiajurnalisme investigatifkesehatan mental digitalLabirin 9.900 Versi DiriM. Idris Daulat
Share This Article
Facebook Email Print
Previous Article 5th Promedia: Sang Pionir Ekosistem Media Digital Indonesia, Selamat Ulang Tahun Promedia Teknologi Indonesia!
Next Article Majalah EKSEKUTIF eksis di majalah cetak dan eksekutif.com

Stay Connected

FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow
- Advertisement -
Ad image

Latest News

Bullying
ETIKET: Adab Berkata-kata Ada Atasan, Ada Bawahan
Budaya
Dari Brankas Dua Meter Cafe de’Clan: Jejak ASABRI, Batu Bara, Krakatau Steel, hingga Bayang-Bayang Konflik Aparat
Hukum
HP Hilang atau Dicuri? Jangan Panik, Begini Cara Mengamankan WhatsApp Agar Tidak Disalahgunakan
Ekonomi
Yusril Ihza Mahendra: Ketika Politik Bertemu Filsafat
Tokoh
//

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet

Sign Up for Our Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

[mc4wp_form id=”55″]

© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Join Us!
Subscribe to our newsletter and never miss our latest news, podcasts etc..
[mc4wp_form]
Zero spam, Unsubscribe at any time.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?