By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
INTISARIMAJALAH.COMINTISARIMAJALAH.COMINTISARIMAJALAH.COM
  • Home
    • Home 2
    • Home 3Hot
    • Home 4
    • Home 5New
  • Economy
    Economy
    Show More
    Top News
    Latest News
  • World
    WorldShow More
  • Us Today
    Us TodayShow More
  • Pages
    • 404 Page
    • Search Page
  • Join Us
Reading: No Kings, atau Kita yang Menciptakan Raja?
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
INTISARIMAJALAH.COMINTISARIMAJALAH.COM
  • Us Today
  • World
  • Economy
  • Business
  • Industry
  • Politics
  • Home
    • Home 1
    • Home 2
    • Home 3
    • Home 4
    • Home 5
  • Categories
    • Us Today
    • World
    • Economy
    • Industry
    • Business
    • Politics
  • Bookmarks
  • More Foxiz
    • Sitemap
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Advertise
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
INTISARIMAJALAH.COM > Blog > Kawula Muda > No Kings, atau Kita yang Menciptakan Raja?
Kawula Muda

No Kings, atau Kita yang Menciptakan Raja?

Redaksi
Last updated: 04/04/2026 05:04
By Redaksi
8 Min Read
Share
SHARE

intisarimajalah.com/ — No Kings, atau Kita yang Menciptakan Raja? Oleh: SS Budi Raharjo MM

Delapan juta warga AS lintas generasi turun ke jalan dalam aksi “No Kings” yang mengguncang pemerintahan Donald Trump.

Contents
intisarimajalah.com/ — No Kings, atau Kita yang Menciptakan Raja? Oleh: SS Budi Raharjo MMSlogan seperti No Kings pada dasarnya adalah TandaBara itu belum menjadi api. Belum.Di situlah kekuatan—dan bahayanya.

Indonesia bukan Amerika.  Dalam ingatan kolektif kita, “raja” bukan sekadar simbol politik. Ia bisa menjadi budaya, bisa menjadi kebiasaan, bahkan bisa menjadi cara kita memandang pemimpin.

Maka ketika istilah No Kings melintasi batas geografis dan masuk ke ruang digital Indonesia, ia tidak datang ke ruang kosong.

Ia bertemu dengan realitas yang berbeda: ketidakpuasan publik memang ada, tetapi masih terpecah-pecah. Sektoral. Terfragmentasi. Belum menemukan satu simpul bersama yang cukup kuat untuk menyatukan langkah jutaan orang dalam satu irama.

Kita mungkin belum punya padanan “No Kings” yang benar-benar lahir dari pengalaman kolektif sendiri. Namun bukan berarti kemungkinan itu nihil.

Demonstrasi “No Kings” memperlihatkan keterlibatan lintas kelas sosial, generasi, dan afiliasi politik. Protes tidak hanya terjadi di kota besar yang dikenal progresif, tetapi juga menjangkau wilayah konservatif dan battleground states.

Slogan seperti No Kings pada dasarnya adalah Tanda

Dalam beberapa tahun terakhir, ada perubahan halus tapi penting. Generasi muda semakin akrab dengan bahasa global—bukan hanya bahasa Inggris, tetapi bahasa gerakan.

Mereka melihat, meniru, mengadaptasi. Media sosial mempercepat proses ini. Sebuah slogan bisa menyeberang benua dalam hitungan jam, lalu dipakai ulang dengan konteks yang berbeda.

Tapi di sinilah letak kerentanannya.

Slogan yang kuat di satu negara belum tentu menemukan maknanya di negara lain. Ia bisa terasa asing, bahkan dipaksakan. Sebab gerakan sosial tidak hanya membutuhkan kata-kata yang lantang; ia membutuhkan akar. Tanpa akar, ia mudah menjadi gema yang keras, tetapi cepat hilang.

Indonesia, dengan keragamannya, cenderung menolak simplifikasi. Kita bukan masyarakat yang mudah diringkus dalam satu narasi tunggal. Bahkan dalam ketidakpuasan, kita sering berbeda alasan.

Barangkali yang lebih relevan bukanlah menanyakan apakah “No Kings” bisa terjadi di sini, melainkan: bentuk apa yang paling mungkin muncul dari konteks kita sendiri?

Sebab sejarah Indonesia menunjukkan, perubahan sering datang bukan dari satu ledakan besar, melainkan dari akumulasi kecil yang perlahan menemukan momentumnya. Reformasi 1998, misalnya, bukan hanya soal satu slogan, tetapi pertemuan dari banyak krisis yang akhirnya tak bisa lagi ditahan.

Hari ini, kita berada dalam situasi yang berbeda. Negara relatif stabil, ruang ekspresi masih terbuka, meski tidak tanpa tantangan. Ketidakpuasan ada, tetapi belum menjadi arus besar. Ia masih seperti sungai-sungai kecil yang belum bertemu di muara.

Di tengah semua itu, mungkin ada satu hal yang patut dijaga: kemampuan untuk mendengar sebelum semuanya berubah menjadi teriakan.

Slogan seperti No Kings pada dasarnya adalah tanda. Ia muncul ketika sebagian masyarakat merasa jarak dengan kekuasaan menjadi terlalu jauh, terlalu tinggi, terlalu sulit dijangkau. Ia bukan hanya kritik, tetapi juga sinyal.

Di jalan-jalan Amerika, terdengar seruan: No Kings.

Sebuah slogan yang sederhana, hampir kekanak-kanakan. Tapi justru, karena itu gerakan no Kings mudah berpindah—melompati batas negara, ideologi, dan sejarah. Ia seperti kata yang belum selesai, yang bisa diisi siapa saja dengan amarahnya sendiri.

Di Indonesia, kita tak punya raja. Setidaknya secara formal. Tapi kita punya sesuatu yang lain: ketidakpuasan yang tersebar di medsos, menguak semacam realitas pesimistis.

Di Indonesia, dinamika ketidakpuasan publik terhadap pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka mulai terlihat dalam sejumlah isu kebijakan secara sporadis dengan isu yang terfragmentasi dan belum terkonsolidasi secara nasional.

Pada ruang-ruang digital yang tak pernah tidur. Obrolan ketakutan masa depan Indonesia sedang beredar, entah oleh mekanisme mesin atau menjadi sekedar kongkow bara kecil di banyak tempat—di kampus, di pabrik.

Bara itu belum menjadi api. Belum.

Gerakan yang oleh beberapa pihak sedang digodok, pada akhirnya, bukan soal bentuk. Ia soal cerita.

“No Kings” bukan sekadar aksi. Ia adalah narasi. Ia memberi satu kalimat pendek untuk menjahit banyak keluhan: ekonomi yang terasa timpang, hukum yang tampak ragu, elite yang dianggap terlalu jauh dari kehidupan sehari-hari.

Narasi seperti ini punya daya tarik yang lama dikenal dalam politik: ia menyederhanakan.

Dunia yang rumit dipadatkan menjadi satu lawan. Satu simbol. Satu slogan. Dan ketika itu terjadi, yang sektoral bisa tiba-tiba menjadi serempak. Tokoh bangsa, eks orang dalam penguasa RI atau kaum pengusaha di bangsa ini seakan paling tahu berbicara kegalauan.

Mahasiswa yang berbicara soal biaya pendidikan. Buruh yang menuntut upah. Kelas menengah yang gelisah soal masa depan. Semua bisa merasa sedang berbicara tentang hal yang sama, meskipun sebenarnya tidak sepenuhnya.

Di situlah kekuatan—dan bahayanya.

Kita sering mengira ancaman datang dari luar: dari slogan impor, dari gerakan yang lahir di negeri lain. Padahal, yang lebih menentukan adalah apa yang sudah ada di dalam.

“No Kings” bisa saja datang sebagai tamu. Tapi ia hanya akan tinggal jika menemukan rumah.

Dan rumah itu adalah ketidakpuasan yang belum terjawab.

Indonesia hari ini tidak kekurangan isu. Ekonomi, hukum, demokrasi—semuanya tersedia, seperti bahan bakar yang belum tersulut.

Selama ini ia terpisah, berjalan sendiri-sendiri, dengan ritmenya masing-masing. Namun sejarah menunjukkan: yang terpisah bisa bertemu, jika ada satu bahasa yang mempersatukan.

Bahasa yang cukup sederhana untuk dipahami, cukup emosional untuk dirasakan, dan cukup luas untuk menampung banyak kepentingan. Di era digital, waktu menjadi pendek.

Apa yang dulu butuh bulan, kini bisa terjadi dalam hitungan hari—bahkan jam. Komunitas lokal bertemu dengan jejaring global. Influencer, aktivis, akademisi, dan orang biasa bercampur dalam satu arus yang sama: percakapan.

Dan percakapan, kita tahu, bisa berubah menjadi keyakinan. Keyakinan bisa berubah menjadi gerakan. Gerakan bisa berubah menjadi stigma—atau legitimasi.

Di titik ini, yang dipertaruhkan bukan sekadar stabilitas. Tapi sesuatu yang lebih rapuh: kepercayaan.

Trust, kata yang sering terdengar teknokratis, tapi sebenarnya sangat manusiawi. Ia tidak dibangun oleh pernyataan resmi semata. Ia lahir dari pengalaman sehari-hari: apakah negara terasa hadir, adil, dan bisa dipahami.

Ketika trust melemah, narasi alternatif menjadi lebih mudah dipercaya. Bahkan jika ia sederhana. Bahkan jika ia tidak sepenuhnya akurat.

Maka “No Kings” di Indonesia, jika ia datang, bukanlah soal meniru Amerika. Ia adalah soal bagaimana kita membaca diri sendiri.

Apakah republik ini masih terasa sebagai milik bersama?
Ataukah ia mulai tampak seperti sesuatu yang jauh—yang hanya bisa dilihat, tapi sulit disentuh?

Gerakan bisa datang dan pergi. Slogan bisa berganti. Tapi jika ketidakpuasan menemukan bahasanya, ia akan selalu menemukan jalannya.

Dan mungkin, pertanyaan yang lebih penting: apakah “No Kings” akan terjadi di Indonesia?

Eng-ing-eng, ada yang coba memainkan isu ini menjadi gerakan bersama. Narasi pelengseran Presiden.

  • BACA JUGA: https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/matra-indonesia/mar-2026

You Might Also Like

Negeri yang Bertengkar dengan Bayangannya, Oleh: SS Budi Raharjo MM (Pengamat Sosial)
Badan Komunikasi Pemerintah atau Bakom RI kini Gandeng New Media Forum
Misteri RI 14, Nomer Siapa dari Pelat Nomor Pejabat Negara Kita?
Orang Bijak Tidak Tergesa, Tapi Tidak Berhenti Melangkah, oleh: Jojo Media Coach
Pemerintah Pastikan Pergantian Pimpinan BGN Tak Ganggu Pelaksanaan Program MBG
Share This Article
Facebook Email Print
Previous Article Sultan Najamudin (Ketua DPD RI) Terima Gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Maritim Korea
Next Article Air Es, Jantung, dan Fakta Kesehatan: Harus Takut atau Cukup Bijak?

Stay Connected

FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow
- Advertisement -
Ad image

Latest News

Bullying
ETIKET: Adab Berkata-kata Ada Atasan, Ada Bawahan
Budaya
Dari Brankas Dua Meter Cafe de’Clan: Jejak ASABRI, Batu Bara, Krakatau Steel, hingga Bayang-Bayang Konflik Aparat
Hukum
HP Hilang atau Dicuri? Jangan Panik, Begini Cara Mengamankan WhatsApp Agar Tidak Disalahgunakan
Ekonomi
Yusril Ihza Mahendra: Ketika Politik Bertemu Filsafat
Tokoh
//

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet

Sign Up for Our Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

[mc4wp_form id=”55″]

© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Join Us!
Subscribe to our newsletter and never miss our latest news, podcasts etc..
[mc4wp_form]
Zero spam, Unsubscribe at any time.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?